Laboratorium Alam Terbesar di Dunia Ada di Indonesia

Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) difoto di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Sulawesi Utara, Minggu (19/2/2017). Sebagai salah satu primata dengan populasi terancam di dunia, perburuan monyet hitam Sulawesi untuk dijual sebagai santapan masih tinggi.(AFP PHOTO / BAY ISMOYO) 

JAKARTA, KOMPAS.com -– Pesona keanekaragaman Republic of Indonesia tak diragukan lagi menarik rasa ingin tahu para peneliti. Daya tarik alam itu hinggap tak terkecuali di dalam kepala seorang naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace.

Dalam penelitiannya selama delapan tahun, yakni pada 1854-1862, Wallace berhasil menemukan laboratorium alam yang kini berada di Republic of Indonesia dan membuat buku The Malay Archipelago. Dia juga menginspirasi naturalis Charles Darwin mengenai teori evolusi.

Kembali ribuan tahun yang lalu, Republic of Indonesia berada di antara dua lempeng besar, Asia dan Australia.

Kala itu, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali menyatu dalam satu daratan luas yang disebut dengan Sundaland. Es yang mencair sekitar 14.000 tahun yang lalu membuat permukaan air laut naik dan membentuk pulau-pulau besar tersebut. Sedangkan di bagian timur, Papua menyatu dengan Australia.

Di tengah, terdapat zona transisi yang berbeda dengan Sundaland dan Papua. Jutaan tahun dalam isolasi membuat brute endemik tumbuh dan berkembang. Daerah itu adalah Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku.

Wallace terkesima dengan keanekaragaman yang terjadi. Hewan yang ada tak serupa, baik itu dengan Sundaland maupun dengan Papua dan Australia. Dia pun membuat pengelompokan geografis yang kini dikenal dengan Wallacea.

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Republic of Indonesia (AIPI) Jatna Supriatna mengatakan, Sulawesi terbentuk dari tiga gugusan pulau yang menjadi satu, yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat. Keunikan spesies di dalamnya juga terjadi di daerah Wallacea lain.

“Laboratorium alam terbesar di dunia itu Wallacea. Keberuntungan yang sangat besar kalau kita menghargai laboratorium alam, dari pengobatan, pertanian, dan teknologi ada di sana,” kata Jatna dalam acara Wallace Week 2017 di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (16/10/2017).

Jatna menjelaskan, Wallacea memilki mamalia endemik sebanyak 127 jenis, sedangkan burung endemik 256 jenis. Keduanya menempati urutan kedua setelah Madagaskar.

Mamalia endemik di Sulawesi juga lebih banyak, yakni lxx persen, dibandingkan Sumatera atau Jawa yang berkisar 30-40 persen.

“Komodo hanya di Nusa Tenggara Timur saja. Itu baru satu hewan, belum yang lain. Tarsius bisa meloncat dengan kecepatan tinggi dan sampai 4-5 meter. Padahal tubuhnya kecil. Kalau dipelajari kan bisa jadi engineering, pemodelan pesawat baru misalnya,” kata Jatna.

Menurut Jatna, bila Wallace tidak datang dan menemukan laboratorim alam di Wallacea, kemungkinan teori evolusi tak akan pernah ada. Setelah mempelajari Wallacea, Wallace mengirimkan catatannya kepada Darwin terkait teori evolusi.

“Kaget Darwin. Dia sudah meneliti bertahun-tahun teori evolusi, hasilnya tidak seperti Wallace. Bahwa terjadi variasi antar pulau, di isolasi geografisnya, akhirnya terjadi adaptasi dan terjadi perubahan. Jadi, teori evolusi berasal dari Republic of Indonesia yang ditemukan oleh Wallace,” kata Jatna.

Meksi demikian, ancaman kenaikan degree permukaan air laut dapat menenggelamkan keberadaan pulau-pulau kecil di Wallacea. Jatna mengatakan, tak menutup kemungkinan pada 2100 akan terjadi pengurangan pulau di Wallacea.

"Sekarang sedang diteliti. Jangan jauh-jauh, pulau Onrust sudah tenggelam," kata Jatna.

SHARE

About Susan M. Hendrickson